IELTS Cambridge VS IELTS Barron’s

BR89

Gbr. Serial buku Barron’s dan Cambridge

Kembali saya akan sharing tentang pengalaman saya mempersipkan diri untuk  mengikuti tes IELTS tgl 21 Mei 2016 di IALF Kuningan. Kali ini saya akan mereview tentang dua buku yang saya gunakan sebagai amunisi sebelum “ Panas dikening dan Dingin dikenang.” Setelah 13 hari tes keluar maka saya harus menerima kenyataan bahwa saya gagal untuk tes IELTS perdana. Bagimana tidak panas dikening kalau soalnya memang luar biasa makyuss dan dingin dikenang kalau mesti merelakan 2,85 juta  dengan hasil yang kurang menggembirakan. Sebenarnya dalam IELTS tidak ada kata gagal, hanya saja saya belum mampu mencapai skor yang ditargetkan. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena memang persiapan yang tidak terlalu matang dan terkesan memaksakan diri. Jauh dari sekedar pengalaman ini bisa jadi pembelajaran dan intropeksi diri melihat sisi-sisi kelemahan yang saya punya.

Jika anda sedang mencari buku yang recommended untuk persiapan tes IELTS secara mandiri maka beberapa sumber akan merujuk pada dua buku pada judul besar di atas. Faktanya ada banyak sekali media untuk belajar IELTS dan buku adalah salah satunya yang paling sering digunakan untuk mengetahui trik-trik soal, ataupun pembahasannya. Berdasarkan pengamatan saya masing-masing buku ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing .Kedua buku di atas dapat dibeli dibeberapa toko buku besar seperti Gramedia dan Kinokuniya, namun gak disemua gramedia ada sepertinya, entah karena stoknya habis ataupun memang tidak memasarkan buku tersebut. IELTS Cambridge sampai saat ini kalau tidak salah sudah sampai seri ke-10, dan semakin tinggi serinya semakin mahal pula harganya. Dari sisi harga buku Barron’s lebih terjangkau buat mahasiswa dan anak kos-kosan, terdapat paket hemat yang terdiri dari 3 buku seharga 500 ribuan karena diskon. Download pdf dan audionya juga bisa jadi alternatif kalau uang lagi seret buah beli yang original, tapi kalau punya uang berlebih alangkah baiknya jika membeli yang asli untuk mendapatkan cetakan dan kertas bagus sekaligus wujud apresiasi kita terhadap pembuat buku.

Bagi awam lagi-lagi buku bagus gak menjamin seseorang untuk bisa meraih skor tinggi kalau tidak diimbangi dengan kerja keras dan doa yang tak henti-hentinya. IELTS bukan tes mudah yang bisa dipelajari hanya dengan  bekal waktu seminggu untuk ukuran individu yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan seperti saya. Bahkan untuk orang yang punya basic bagus in english dan pernah tinggal dinegara yang menggunkan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar saja masih dibela-belain buat ambil preparation class yang jelas saja tidak murah, bahkan biaya untuk preparationnya bisa dua kali lihat biaya tes, makjlebb banget kalau buat karyawan lah. Kebanyakan dari mereka mengambil kelas preparation yang difokuskan pada sesi writing dan speaking, karena memang untuk dua sesi ini butuh keberadaan orang lain untuk memberi penilaian. Butuh latihan rutin dan tertata untuk mendapatkan hasil maksimal jika mengincar skor yaaaa minimal 6,5 All band lahh sebagai syarat untuk mendaftar beasiswa maupun universitas di luar negeri.

Latihan secara mandiri yang sifatnya semi insentif saya sudah coba lakukakan untuk mengantisipasi topik soal yang mungkin akan diujikan dengan menggunakan dua buku tersebut. Bagi karyawan memang mengatur jadwal belajarlah yang cukup susah menurut saya. Mengandalkan jam setelah pulang kerja dan waktu week end adalah yang bisa dilakukan. Godaan terberatnya adalah rasa lelah dan malas yang selalu saja timbul kapan saja. Dari total 3 buku Barron’s yang terdapat dalam paket tercatat hanya satu  buku yang baru saya selesaikan. Terdapat  paket soal latihan beserta kunci jawaban baik akademik maupun general  training. Dari sisi buku Cambridge saya hanya mencetak dua seri saja yang menurut saya cukup baru, yakni seri 8 dan 9. Sempat mencari-cari seri 10 tapi belum dapat. Paket soal yang terdapat dalam satu buku Cambridge ada 4 paket dengan tingkat kerumitan yang cukup wahhhh lah menurut saya. Dari kedua buku tersebut saya baru sempat menyelesaikan seri ke-8 mengingat jadwal tes yang sudah di depan mata waktu itu.

Setelah menyelesaikan soal-soal dari kedua buku berbeda tersebut saya bisa mengatakan bahwa IELTS Cambridge lebih representatif untuk menggambarkan kemampuan yang saya punya. Skor yang saya dapatkan dari tes sesungguhnyapun bahkan hanya setara dengan hasil sewaktu latihan. Komparasi yang saya lakukan memang hanya sebatas bagian Listening dan Reading. Soal-soal IELTS yang sebenarnya memang tingkat kesulitanya kurang lebih sama dengan yang ada dalam buku Cambridge. Cambridge memang adalah salah satu pihak yang membawahi IELTS di samping IDP dan British Council , oleh karena itu soal-soal yang diterbitkan dalam buku Cambridge-pun disetting setara dengan  tes aslinya atau soal yang pernah diujikan dimasukkan dalam buku tersebut. Buat teman-teman yang sekedar ingin mengetahui sejauh mana tingkat kemampuannya untuk menaklukan tes IELTS atau sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi tes saya sarankan untuk menggunkan buku terbitan Cambridge. Buku Barron’s  sebenarnya juga bisa menjadi alternatif untuk menambah kosa kata dan trik-trik menghajar IELTS. Topic yang dibahas dalam buku Barron’s juga variatif dan mudah dicerna. Demikian review saya mengenai kedua buku tersebut, tetap semangat, terus belajar, dan semoga bermanfaat.

 Jakarta, 02 Juli 2016

Berkah Dalem 🙂