Time Leaves no Fruit on The Tree

P_20171228_161444[1]

Beberapa bulan terakhir ini lagi seneng-senengnya dengerin lagu You’re gonna live forever in me gara-gara ada bait Time leaves no fruit on the tree. John Legend lewat lagu ini sih  sepertinya mengisyaratkan walaupun banyak hal besar yang telah atau akan terjadi ia memberi jaminan bahwa sang kekasih akan tetap tinggal dalam hatinya. Bertolak belakang dengan itu untuk kali ini saya mengambil judul di atas karena yaa keputusan untuk berpisah. Berpisah enggak melulu tentang asmara dan percintaan kan?, bisa aja tentang karir, pekerjaan, atau yang lainya. Barangkali saya punya firasat yang implikasinya berimbas sama kehidupan….hanya barang kali.

Setali tiga uang atas beberapa alasan dan pertimbangan yang matang saya memutuskan untuk mengakhiri masa kerja di tempat pertama kali dimana saya dibesarkan. Batu pijakan yang sudah mendidik saya selama kurun waktu 2 Tahun 8 Bulan. Banyak sekali pelajaran real yang tidak pernah didapatkan selama duduk di bangku kuliah saya temukan disini, itulah mengapa saya selalu terkesan melihat akademisi yang juga merangkap menjadi praktisi.

Rutinitas selama hari kerja menggeluti profesi sebagai Structural Engineer (Sebagian saya singkat SE saja karna cukup banyak dipakai dalam tulisan ini) sangatlah menyenangkan dan penuh tantangan. Program ETABS dan Auto CAD bukanlah barang asing karena setiap hari selalu bersinggungan. Sayangnya, beberapa saat kedepan sepertinya program ini tidak akan saya gunakan  seintens saat menjadi SE karena jabatan baru yang akan saya emban sedikit bergeser namun tidak terlalu jauh lah.

Menerjemahkan gambar arsitek kedalam program 3D, mengeluarkan output berupa hitungan dan gambar struktur yang siap dikerjakan di lapangan adalah hal terkeren yang saya rasakan selama menjadi SE. Semakin ruwet, nyleneh, dan baru bentuk dan karakter bangunan maka semakin tertantang pula untuk mengerjakan project tersebut. Walaupun kadang uring-uringan, stress, dan pusing sendiri tapi ada kenikmatan yang berbeda ketika bisa menemukan solusi.

Bicara kenikmatan tanpa bicara obstacle rasanya kurang lengkap. Untuk bertahan pada pilihan yang sudah jatuhkan itu tidak mudah. Berkaca pada pengalaman banyak juga anak-anak baru yang belum setahun memilih untuk resign karena merasa tidak mampu ataupun tidak menemukan kesesuaian pada  pekerjaan. Tidak jarang ada juga yang belum menginjak sebulan memutuskan untuk mundur. Tekanan terbesar yang sering dialami biasanya mengenai masalah deadline yang bisa datang dan pergi sesuka hati.

Design yang acap kali berubah-rubah dari arsitek juga kendala untuk percepatan karena harus merekalkulasi ulang. Beberapa konsultan besar di Jakarta menerapkan kerja team namun ada juga satu SE yang diberikan lebih dari satu project dengan pengawasan seorang manager. Beban tugas yang terlalu banyak ditambah deadline yang kadang berbarengan membuat SE harus memutar otaknya lebih cepat.

In addition, sebagai revew selama masa bakti yang saya rasa lebih dari cukup saya ingin menyampaikan bahwa cukup banyak pekerjaan yang bisa digeluti atau ditawarkan jika tidak lagi menjadi structural engineer. Berikut adalah alternatif pilihan yang bisa menjadi opsi menurut top survey:

  • Buka konsultan sendiri

Sebagian engineer yang punya jiwa usaha biasanya lebih memilih untuk mendirikan konsultan sendiri ketimbang pindah kerja ke tampat lain. Toh setelah 3 tahun atau lebih bermodalkan keahlian yang cukup mumpuni Structural Engineer bisa mengurus SKA ataupun SIBP sendiri.

  • Konsultan Asing

Ada cukup banyak konsultan asing yang punya kantor di Indonesia dan tentu saja mereka mencari Structural Engineer yang berpengalaman dengan tawaran gaji yang cukup tinggi. Beberapa contoh konsultan struktur asing di Indonesia diantaranya adalah: Meindhard Indonesia, Royal HaskoningDHV, dll.

  • Developer

Developer merupakan lahan subur untuk lulusan Structural Engineer. Jasa Structural Engineer disini sangat dibutuhkan untuk merevew hasil kerja dari konsultan perencana. Penghasilan yang ditawarkan oleh mereka juga di atas rata-rata pada umumnya.

  • Kontraktor

Paham design namun tidak tahu praktek kan sayang yaa. Pada umumnya SE mengincar kontraktor karena ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat selama bekerja di konsultan perencana. Banyak sekali kontraktor BUMN maupun swasta yang mau meminang SE untuk ditempatkan sebagai Construction Engineer maupun Design Engineer tergantung divisi masing-masing kontraktor.

In Conclusion, Bertahan atau pergi itu adalah pilihan. Seperti buah yang tidak selamnya menggantung pada ranting  pohon, begitu juga dengan dengan saya yang sedang mencari ranting baru yang lebih kokoh ataupun lebih cocok dengan karakter buah yang ingin ataupun sudah saya hasilkan. Terima kasih atas segala pengetahuan dan kesempatan yang sudah diberikan, ini adalah hal luar biasa yang tentu saja tak bisa dinilai hanya dengan sekedar pundi rupiah.

Jakarta, 07 Juli 2017

Berkah Dalem 🙂

Advertisements