Time Leaves no Fruit on The Tree

P_20171228_161444[1]

Beberapa bulan terakhir ini lagi seneng-senengnya dengerin lagu You’re gonna live forever in me gara-gara ada bait Time leaves no fruit on the tree. John Legend lewat lagu ini sih  sepertinya mengisyaratkan walaupun banyak hal besar yang telah atau akan terjadi ia memberi jaminan bahwa sang kekasih akan tetap tinggal dalam hatinya. Bertolak belakang dengan itu untuk kali ini saya mengambil judul di atas karena yaa keputusan untuk berpisah. Berpisah enggak melulu tentang asmara dan percintaan kan?, bisa aja tentang karir, pekerjaan, atau yang lainya. Barangkali saya punya firasat yang implikasinya berimbas sama kehidupan….hanya barang kali.

Setali tiga uang atas beberapa alasan dan pertimbangan yang matang saya memutuskan untuk mengakhiri masa kerja di tempat pertama kali dimana saya dibesarkan. Batu pijakan yang sudah mendidik saya selama kurun waktu 2 Tahun 8 Bulan. Banyak sekali pelajaran real yang tidak pernah didapatkan selama duduk di bangku kuliah saya temukan disini, itulah mengapa saya selalu terkesan melihat akademisi yang juga merangkap menjadi praktisi.

Rutinitas selama hari kerja menggeluti profesi sebagai Structural Engineer (Sebagian saya singkat SE saja karna cukup banyak dipakai dalam tulisan ini) sangatlah menyenangkan dan penuh tantangan. Program ETABS dan Auto CAD bukanlah barang asing karena setiap hari selalu bersinggungan. Sayangnya, beberapa saat kedepan sepertinya program ini tidak akan saya gunakan  seintens saat menjadi SE karena jabatan baru yang akan saya emban sedikit bergeser namun tidak terlalu jauh lah.

Menerjemahkan gambar arsitek kedalam program 3D, mengeluarkan output berupa hitungan dan gambar struktur yang siap dikerjakan di lapangan adalah hal terkeren yang saya rasakan selama menjadi SE. Semakin ruwet, nyleneh, dan baru bentuk dan karakter bangunan maka semakin tertantang pula untuk mengerjakan project tersebut. Walaupun kadang uring-uringan, stress, dan pusing sendiri tapi ada kenikmatan yang berbeda ketika bisa menemukan solusi.

Bicara kenikmatan tanpa bicara obstacle rasanya kurang lengkap. Untuk bertahan pada pilihan yang sudah jatuhkan itu tidak mudah. Berkaca pada pengalaman banyak juga anak-anak baru yang belum setahun memilih untuk resign karena merasa tidak mampu ataupun tidak menemukan kesesuaian pada  pekerjaan. Tidak jarang ada juga yang belum menginjak sebulan memutuskan untuk mundur. Tekanan terbesar yang sering dialami biasanya mengenai masalah deadline yang bisa datang dan pergi sesuka hati.

Design yang acap kali berubah-rubah dari arsitek juga kendala untuk percepatan karena harus merekalkulasi ulang. Beberapa konsultan besar di Jakarta menerapkan kerja team namun ada juga satu SE yang diberikan lebih dari satu project dengan pengawasan seorang manager. Beban tugas yang terlalu banyak ditambah deadline yang kadang berbarengan membuat SE harus memutar otaknya lebih cepat.

In addition, sebagai revew selama masa bakti yang saya rasa lebih dari cukup saya ingin menyampaikan bahwa cukup banyak pekerjaan yang bisa digeluti atau ditawarkan jika tidak lagi menjadi structural engineer. Berikut adalah alternatif pilihan yang bisa menjadi opsi menurut top survey:

  • Buka konsultan sendiri

Sebagian engineer yang punya jiwa usaha biasanya lebih memilih untuk mendirikan konsultan sendiri ketimbang pindah kerja ke tampat lain. Toh setelah 3 tahun atau lebih bermodalkan keahlian yang cukup mumpuni Structural Engineer bisa mengurus SKA ataupun SIBP sendiri.

  • Konsultan Asing

Ada cukup banyak konsultan asing yang punya kantor di Indonesia dan tentu saja mereka mencari Structural Engineer yang berpengalaman dengan tawaran gaji yang cukup tinggi. Beberapa contoh konsultan struktur asing di Indonesia diantaranya adalah: Meindhard Indonesia, Royal HaskoningDHV, dll.

  • Developer

Developer merupakan lahan subur untuk lulusan Structural Engineer. Jasa Structural Engineer disini sangat dibutuhkan untuk merevew hasil kerja dari konsultan perencana. Penghasilan yang ditawarkan oleh mereka juga di atas rata-rata pada umumnya.

  • Kontraktor

Paham design namun tidak tahu praktek kan sayang yaa. Pada umumnya SE mengincar kontraktor karena ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat selama bekerja di konsultan perencana. Banyak sekali kontraktor BUMN maupun swasta yang mau meminang SE untuk ditempatkan sebagai Construction Engineer maupun Design Engineer tergantung divisi masing-masing kontraktor.

In Conclusion, Bertahan atau pergi itu adalah pilihan. Seperti buah yang tidak selamnya menggantung pada ranting  pohon, begitu juga dengan dengan saya yang sedang mencari ranting baru yang lebih kokoh ataupun lebih cocok dengan karakter buah yang ingin ataupun sudah saya hasilkan. Terima kasih atas segala pengetahuan dan kesempatan yang sudah diberikan, ini adalah hal luar biasa yang tentu saja tak bisa dinilai hanya dengan sekedar pundi rupiah.

Jakarta, 07 Juli 2017

Berkah Dalem 🙂

Advertisements

Generasi Pembelajar (Mata Najwa)

Opening:

Jarak selalu mengajarkan rindu

Sukar ditebus hanya dengan menghabiskan waktu

Dari kejauhan yang melahirkan haru biru

Panggilan tanah air tiada habis menderu

Tumpah darah terus saja memikat

Walau masa depan masih begitu pekat

Begitulah pesona kampung halaman

Datang bergelombang penuh rindu dendam

Saat rantau menawarkan zona nyaman

Dimanakah masa depan hendak ditambatkan?

Closing :

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan

Kampung halaman terasa sungguh meragukan

Di bawah naungan bujuk rayu materi

Tanah air terasa hanya sekedar melankoli

Wajar jika keraguan merajalela

Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa

Tapi ibu pertiwi tak pernah bosan memanggil

Perantau kuyup oleh perasaan sentimentil

Dipantik oleh ingatan dan kenangan

Rindu tanah kelahiran pasti tak tertahankan

Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan

Indonesia butuh sumbangsih mereka yang berpengetahuan

Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan

Mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan

Kami amat risau menunggu

Kepulangan kalian yang sedang berguru

Pulanglah kapanpun kalian mau

Saudara-saudaramu juga sangat ingin maju

Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung 

#MataNajwaGoesToNetherlands

 

Jakarta, 22 November 2016

Berkah Dalem🙂

SKCK Sebagai Syarat Beasiswa

SKCK pada umumnya diperlukan saat kita hendak akan mengikuti tes masuk PNS, tes masuk institusi pemerintahan, syarat masuk kerja, atau yang lainnya. Berikut ini akan saya jelaskan rentetan pengurusan SKCK yang tujuannya sebagai syarat pelengkap beasiswa.

  1. Surat Pengantar dari RT, RW, Dukuh, Kelurahan

Langkah awal yang harus dilakukan adalah mendatangi perangkat desa mulai dari tingkatan terbawah dimana domisili saya tinggal sesuai KTP yang masih berlaku. Mulailah pergi ke tempat Pak RT terlebih dahulu dan menyapaikan maksud dan tujuan pembuatan SKCK sembari membawa Foto Copy KK atau KTP. RT setempat akan menyiapkan form yang nantinya akan ditanda tangani dan diberi stempel oleh RW, Dukuh, dan Kelurahan. Untuk meminta surat pengantar dari RT, RW, dan Dukuh sendiri saya lakukan dihari yang berbeda, barulah ke-esokan harinya saya baru pergi ke Kelurahan. Berikut yang harus disiapkan untuk pengurusan surat pengantar ditingkat awal ini:

  • Biaya Administrasi 10.000,00 (di Kelurahan)
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP

Setelah diberi Stempel dan Tanda Tangan maka saya selanjutnya diarahkan oleh petugas kelurahan untuk mengujungi Kantor Polisi Sekitar yang terdekat dengan domisili.

  1. Surat Pengantar dari Polsek

Sekitar pukul 08.00 saya sudah ada di kantor Polsek yang ada di Jl. Solo dekat dengan Ambarukmo Plaza. Petugas kemudian meminta beberapa persyaratan seperti yang saya tulisankan di bawah ini serta tujuan penggunaan SKCK-nya. Jika tujuannya untuk melajutkan studi maka akan ditanyakan studi di dalam atau di luar negeri. Di kantor Polsek ini sebenarnya diminta Pas Foto dengan background merah, namun karena yang pertama saya keluarkan background biru jadi kata petugasnya gak papa. Ini adalah berkas yang perlu disiapakan saat di Polsek:

  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Pas Photo 4×6 Dua Lembar (Background Merah)
  • Surat Pengantar dari RT, RW, Dukuh, dan Kelurahan

Setelah pengantar selesai diketik kemudian petugas memberikan arahan agar saya menuju Polres Sleman yang berada di Jl. Magelang. Pembuatan surat pengantar di kantor Polsek ini tidak dimintai biaya, namun biasanya jika mengurus surat yang lainya petugas hanya bilang “Sukarela”.

  1. Surat Pengantar dari Polres

Setibanya di kantor pengurusan SKCK di Polres saya diarahkan kebagian pencatatan sidik jari terlebih dahulu karena sebelumnya saya belum pernah mempunyai semacam kartu rekam tentang sidik jari. Untuk pengurusan sidik jari yang perlu anda siapkan adalah:

  • Biaya Administrasi 10.000,00
  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Pas Photo 4×6 Atau 3×4 Satu Lembar (Background Merah/Biru)

Sebelum perekaman sidik jari saya terlebih dahulu diminta untuk mengisi data diri dan riwayat hidup. Perekaman sidik jari dilakukan secara manual yang biasanya dengan tinta dan elektronik… maklum jaman makin canggih. Saya kemudian diberikan kartu sidik jari yang berisi semacam susunan huruf dan angka. Kartu tersebut lalu saya foto copy terlebih dahulu sebelum menuju ruang pengurusan SKCK. Petugas di ruang pengurusan SKCK juga menanyakan untuk tujuan lanjut studi dalam atau luar negeri. Blanko yang berisi pertanyaan seputar data diri dan riwayat catatan hukum diberikan terlebih dahulu, barulah setelah itu surat pengantar saya diproses. Persiapkanlah dokumen dan perlengkapan ini saat anda di Polres:

  • Biaya Administrasi 10.000,00
  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Foto Copy Kartu Sidik Jari
  • Pas Photo 4×6 Empat Lembar (Background Merah)
  • Surat Pengantar dari Polsek

Berbekal sepucuk surat kemudian petugas memberi komando agar saya melanjutkan tahapan terakhir di Polda DIY.

  1. Polda

Mencari alamat Polda DIY tidak begitu susah yaa, letaknya ada di Jalan Ring Road Utara persis di depan Mall Hartono. Mall ini konon katanya adalah mall terbesar se DIY- Jateng. Begitu melewati pintu gerbang saya langsung disapa oleh petugas penjaga dengan wajah yang cukup serius dan suara tegas, sesuai prosedur yang berlaku memang tamu wajib lapor. Saya diminta untuk membuka masker dan kaca penutup helm , wahh..wahh cukup deg-degan masuk markas polisi dengan pelat motor mati dan sempat ketahuan melawan arah sebelum masuk gerbang.

Ruangan tempat pengurusan SKCK di Polda DIY ada sederatan dengan pos penjagaan yang tidak jauh dari pintu gerbang. Berkas dan persyaratan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut:

  • Biaya Administrasi 10.000,00
  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Pas Photo 4×6 Satu Lembar (Background Merah)
  • Surat Pengantar dari Polres

Pertanyaan yang sama kembali ditanyakan petugas perihal tujuan SKCK untuk lanjut studi dalam atau luar negeri. Petugas di ruangan pengurusan SKCK kemudian memberikan blanko yang harus saya isi terlebih dahulu. Blanko ini sama dengan yang diberikan saat di Porles, isinya mengenai data diri dan riwayat catatan pelanggaran kalau pernah bersangkutan dengan kasus hukum. Tak butuh waktu lama setelah blanko dikembalikan petugas segera memproses SKCK-nya. Berikut adalah rangkuman estimasi waktu dan biaya yang saya habiskan dalam pengurusan SKCK ini.

  1. Kelurahan  = 15 Menit
  2. Polsek         = 30 Menit
  3. Polres          = 45 Menit   (*Termasuk pengurusan sidik jari (20 Menit)
  4. Polda            = 30 Menit
  5. Biaya Total yang saya keluarkan = Rp. 40.000,00

Jadi dalam pengurusan SKCK ini bisa dilakukan dalam sehari asalkan memulainya sepagi mungkin dan Surat pengantar dari RT, RW, dan Dukuh sudah diurus dihari sebelumnya. Pelayanan petugas dimasing-masing instansi saat ini juga sangat cepat dan jelas arahannya sehingga saya tidak bingung. Demikian Catatan ini saya buat semoga bermanfaat.

Jakarta, 21 Juli 2016

Berkah Dalem 🙂

IELTS Cambridge VS IELTS Barron’s

BR89

Gbr. Serial buku Barron’s dan Cambridge

Kembali saya akan sharing tentang pengalaman saya mempersipkan diri untuk  mengikuti tes IELTS tgl 21 Mei 2016 di IALF Kuningan. Kali ini saya akan mereview tentang dua buku yang saya gunakan sebagai amunisi sebelum “ Panas dikening dan Dingin dikenang.” Setelah 13 hari tes keluar maka saya harus menerima kenyataan bahwa saya gagal untuk tes IELTS perdana. Bagimana tidak panas dikening kalau soalnya memang luar biasa makyuss dan dingin dikenang kalau mesti merelakan 2,85 juta  dengan hasil yang kurang menggembirakan. Sebenarnya dalam IELTS tidak ada kata gagal, hanya saja saya belum mampu mencapai skor yang ditargetkan. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena memang persiapan yang tidak terlalu matang dan terkesan memaksakan diri. Jauh dari sekedar pengalaman ini bisa jadi pembelajaran dan intropeksi diri melihat sisi-sisi kelemahan yang saya punya.

Jika anda sedang mencari buku yang recommended untuk persiapan tes IELTS secara mandiri maka beberapa sumber akan merujuk pada dua buku pada judul besar di atas. Faktanya ada banyak sekali media untuk belajar IELTS dan buku adalah salah satunya yang paling sering digunakan untuk mengetahui trik-trik soal, ataupun pembahasannya. Berdasarkan pengamatan saya masing-masing buku ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing .Kedua buku di atas dapat dibeli dibeberapa toko buku besar seperti Gramedia dan Kinokuniya, namun gak disemua gramedia ada sepertinya, entah karena stoknya habis ataupun memang tidak memasarkan buku tersebut. IELTS Cambridge sampai saat ini kalau tidak salah sudah sampai seri ke-10, dan semakin tinggi serinya semakin mahal pula harganya. Dari sisi harga buku Barron’s lebih terjangkau buat mahasiswa dan anak kos-kosan, terdapat paket hemat yang terdiri dari 3 buku seharga 500 ribuan karena diskon. Download pdf dan audionya juga bisa jadi alternatif kalau uang lagi seret buah beli yang original, tapi kalau punya uang berlebih alangkah baiknya jika membeli yang asli untuk mendapatkan cetakan dan kertas bagus sekaligus wujud apresiasi kita terhadap pembuat buku.

Bagi awam lagi-lagi buku bagus gak menjamin seseorang untuk bisa meraih skor tinggi kalau tidak diimbangi dengan kerja keras dan doa yang tak henti-hentinya. IELTS bukan tes mudah yang bisa dipelajari hanya dengan  bekal waktu seminggu untuk ukuran individu yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan seperti saya. Bahkan untuk orang yang punya basic bagus in english dan pernah tinggal dinegara yang menggunkan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar saja masih dibela-belain buat ambil preparation class yang jelas saja tidak murah, bahkan biaya untuk preparationnya bisa dua kali lihat biaya tes, makjlebb banget kalau buat karyawan lah. Kebanyakan dari mereka mengambil kelas preparation yang difokuskan pada sesi writing dan speaking, karena memang untuk dua sesi ini butuh keberadaan orang lain untuk memberi penilaian. Butuh latihan rutin dan tertata untuk mendapatkan hasil maksimal jika mengincar skor yaaaa minimal 6,5 All band lahh sebagai syarat untuk mendaftar beasiswa maupun universitas di luar negeri.

Latihan secara mandiri yang sifatnya semi insentif saya sudah coba lakukakan untuk mengantisipasi topik soal yang mungkin akan diujikan dengan menggunakan dua buku tersebut. Bagi karyawan memang mengatur jadwal belajarlah yang cukup susah menurut saya. Mengandalkan jam setelah pulang kerja dan waktu week end adalah yang bisa dilakukan. Godaan terberatnya adalah rasa lelah dan malas yang selalu saja timbul kapan saja. Dari total 3 buku Barron’s yang terdapat dalam paket tercatat hanya satu  buku yang baru saya selesaikan. Terdapat  paket soal latihan beserta kunci jawaban baik akademik maupun general  training. Dari sisi buku Cambridge saya hanya mencetak dua seri saja yang menurut saya cukup baru, yakni seri 8 dan 9. Sempat mencari-cari seri 10 tapi belum dapat. Paket soal yang terdapat dalam satu buku Cambridge ada 4 paket dengan tingkat kerumitan yang cukup wahhhh lah menurut saya. Dari kedua buku tersebut saya baru sempat menyelesaikan seri ke-8 mengingat jadwal tes yang sudah di depan mata waktu itu.

Setelah menyelesaikan soal-soal dari kedua buku berbeda tersebut saya bisa mengatakan bahwa IELTS Cambridge lebih representatif untuk menggambarkan kemampuan yang saya punya. Skor yang saya dapatkan dari tes sesungguhnyapun bahkan hanya setara dengan hasil sewaktu latihan. Komparasi yang saya lakukan memang hanya sebatas bagian Listening dan Reading. Soal-soal IELTS yang sebenarnya memang tingkat kesulitanya kurang lebih sama dengan yang ada dalam buku Cambridge. Cambridge memang adalah salah satu pihak yang membawahi IELTS di samping IDP dan British Council , oleh karena itu soal-soal yang diterbitkan dalam buku Cambridge-pun disetting setara dengan  tes aslinya atau soal yang pernah diujikan dimasukkan dalam buku tersebut. Buat teman-teman yang sekedar ingin mengetahui sejauh mana tingkat kemampuannya untuk menaklukan tes IELTS atau sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi tes saya sarankan untuk menggunkan buku terbitan Cambridge. Buku Barron’s  sebenarnya juga bisa menjadi alternatif untuk menambah kosa kata dan trik-trik menghajar IELTS. Topic yang dibahas dalam buku Barron’s juga variatif dan mudah dicerna. Demikian review saya mengenai kedua buku tersebut, tetap semangat, terus belajar, dan semoga bermanfaat.

 Jakarta, 02 Juli 2016

Berkah Dalem 🙂

Kerja Sambil Kuliah, Apa enaknya???

WVSS

Punya pekerjaan mapan di perusahaan ternama dengan gaji fantastis setelah tamat kuliah adalah idaman setiap orang. Punya pendidikan tinggi dengan gelar bergengsi dari universitas top bagi sebagian orang juga merupakan hal yang diidam-idamkan. Apalagi kalau bisa menduetkan keduanya dalam satu waktu, tentu saja akan terasa komplit perjalanan hidup kita. Sudah tamat S1 dan bekerja di perusahaan dengan gaji yang dibilang yaaa cukup lumayan lah buat mulai menapaki hidup tanpa bergantung pada orang tua. Namun jauh dilubuk hati paling dalam kok sempat terbesik pikiran pengen buat study lagi. Entah menganggap bekal ilmu yang dipunyai sekarang kurang, atau merasa sepertinya jalan hidup kita bukan di dunia kerja sekarang.

Beberapa pilihan yang bisa dibuat untuk menyiasati kegundahan semacam ini adalah kalau bukan resign dari perusahaan lalu kuliah full time yaaa kerja sambil kuliah. Pemandangan seperti ini sepertinya sudah tidak asing di Jakarta, apalagi sudah banyak universitas yang membuka kelas malam bagi karyawan atau juga ada kelas E- Learning yang tatap muka bisa dilakukan saat week end. Bersyukurlah kalau perusahaan mensupport karyawannya yang punya semangat buat maju dan antusias untuk study lagi, asal tetap professional menyikapi urusan kantor dan kampus. Bahkan kampus negeri seperti UI juga  sekarang sudah menyelenggarakan kelas malam untuk beberapa jurusan dan peminatan tertentu, sayangnya peminatan yang saya inginkan tidak dibuka untuk kelas keryawan. Padahal belum tentu juga diterima disana….zzzzzzz.

Sebenarnya saya bukan pemeran utama dalam hal ini, namun berdasarkan pantuan saya terhadap karyawan yang kerja sambil kuliah ditempat saya bekerja saat ini, saya bisa menjabarkan apa sih enaknya kerja sambil kuliah. Ruang lingkupnya saya batasi pada enak-enaknya saja yaa, ntar kalau dikasih tau gak enaknya malah hilang niat kuliah lagi..ckckckck. Setidaknya ada empat hal yang bisa saya simpulkan dari survei saya dalam beberapa tahun belakangan ini.

Efisiensi fasilitas kantor

Kehidupan mahasiswa gak akan jauh-jauh dari kertas dan printer, selagi ada yang bisa gratis kenapa gak dimaksimalkan aja kan..hehehehe. Bisa menghemat beberap ribu kan lumayan bisa buat beli cilok kalau lagi lapar. Bersyukurlah kalau bisa bekerja dilingkungan kantor yang terlalu mempersoalkan pengunaan fasilitas kantor. Kalau lagi ada jam-jam kosong bisalah curi-curi print jurnal, makalah, atau tugas yang jumlahnya gak seberapa tapi sering..zzzzzz, asal gak print satu rim aja yaaa. Komputer kantor barangkali juga bisa dimanfaatkan secara lagi kerjaain tugas akhir butuh sofware terbaru dengan spesifikasi komputer yang cukup tinggi buat running program. Selagi kerja bisa juga kerjaain thesis, kerjaan selesai thesis jalan teruss, alangkah senangnya kannn..hehehehe

Beasiswa mandiri

Tidak semua dari kita lahir dari keluarga berada pastinya. Orang tua sudah mewanti-wanti “Jatahmu sekolah sampai S1, sekarang giliran adik-adikmu, kalau mau sekolah lagi ya cari beasiswa atau pakai uang sendiri”. Mungkin ada satu dari antara kita ada yang punya pengalaman demikian, barangkali juga yang saya alami. Beasiswa mandiri yang saya maksudkan adalah sekolah hasil dari keringat sendiri tanpa merepotkan uang tua lagi. Lahhh ngabisin duit gaji dimana enaknya???, jauh diluar kata enak bisa jadi sebuah kepuasan tersendiri, setidaknya kita bisa membuktikan kepada orang lain bisa hidup dan study lagi tanpa campur tangan orang tua lagi. Teman-teman dilingkungan kantor sebagian sudah sibuk mempersiapkan KPR rumah, tabungan buat nikah, ehhhh gaji kita masih berkutat buat biaya semesteran. Tapi gak apalah pendidikan kan juga bagian dari investasi, lagian investasi ilmu gak ada kadaluarsanya, makin diupgrade makin sippp lah.

Jam terbang tinggi  + Gelar mentereng

Apa yang perusahaan inginkan saat anda mendaftar kesebuah tempat baru? Pengalaman kerja? YES, jenjang pendidikan tinggi? YES. Satelah setahun bekerja dan didaulat sebagai karyawan tetap, anda memutuskan meminta izin atasan untuk kerja sambil kuliah. Jika dihitung-hitung dengan masa studi magister yang notabenya adalah dua tahun dan ditambah dengan setahun masa kerja awal sebelum studi maka setelah lulus anda sudah punya pengalaman kerja selama 3 tahun. Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui, sudah punya pengalam 3 tahun + gelar M.T, M.Si, M.M, atau yang lainnya, wahh….wahhh menang banyak bandar kalau dihitung-hitung kan. Dengan pengalaman kerja yang cukup lama dan gelar S2 setidaknya jika anda berniat untuk mencari tantangan baru di dunia kerja maka itu akan sangat membantu sekali. Beberapa perusahaan asing di Indonesia juga menetapkan kualifikasi tinggi untuk posisi-posisi tertentu, bisa jadi itu patut anda pertimbangkan.

Hemat Usia

Setiap orang punya prinsip masing-masing untuk urusan pendidikan. Bekerja keras dulu agak 2-3 tahun setelah dirasa tabungannya cukup kemudian baru melanjutkan studi mungkin bisa jadi opsional, namun kalau bisa kerja sambil kuliah why not yakk. Masalahnya dihitung pakai  jari tangan dan kaki kok sudah gak cukup ni umur kita tahun ini, mesti antisipasi ni biar bisa hemat usia dengan kerja sambil kuliah. Bener sih ada yang bilang belajar tidak mengenal usia dan waktu tapi, alangkah senangnya kalau bisa menyandang gelar S2 semuda mungkin biar masa bakti dan produktivitas kita di dunia kerja cukup lama. Semakin tua saya rasa juga daya tangkap semakin menurun, semangat memang masih 45, tetapi kadang usia juga gak bisa bohong. Jadi kendala-kendala semacam ini bisa dicarikan solusi dengan kerja sambil kuliah, jika dirasa memang perlu dan siap.

Setinggi-tingginya gelar yang kita dapatkan pada akhirnya juga akan sangat bermanfaat dan berguna jika diaplikasikan di dunia kerja. Kerja juga bisa apa saja kan yang penting punya value buat diri sendiri dan orang lain. Maka dari itu mau kuliah full time atau kerja sambil kuliah kembali lagi pada motivasi dan tujuan hidup anda kedepan.

Jakarta, 5 Mei 2016

Berkah Dalem 🙂

Kenapa Harus Lembur ???

“Lembur” adalah satu kata yang bisa menunjukkan status sosial suatu individu. Setidaknya dengan berkata “saya sedang lembur” bisa ditangkap bahwa orang ini punya kesibukan yang padat atau pekerjaan yang cukup strategis untuk dijadikan calon pasangan..hahahahha. Kerja overtime adalah hal menyiksa bagi sebagian karyawan namun disisi lain bisa mendatangkan rezeki lebih. Berikut saya paparkan dari beberpa sumber yang telah saya himpun mengapa harus kerja lembur.

  1. Project dikejar deadline

Hari ini lembur, besok lembur, lahh lahh besoknya kok masih harus lembur lagi, bisa didaulat jadi pemeran utama serial  ” Man Of The Overtime” nih. Untuk alasan yang satu ini kerja lembur memang tidak bisa ditunda-tunda karena sudah bagian dari tanggung jawab dan sifatnya memang mendesak. Kerja kerja, kerja, layaknya slogan kabinet Pak Jokowi saat ini wajib dilakukan pada sesi ini, bisa jadi dalam fase ini rasanya kok 1×24 jam masih kurang yaaa, mau lapor juga bingung sama siapa, padahal yang belum disentuh masih seabrek. Mau istirahat ingat kerjaan, mau makan ingat kerjaan, kemana-mana ingat kerjaan ohhhh kok lebih deg-deg an ya ketemu bos waktu kerjaan deadline timbang ketemu mantan…ckckckckck.

  1. Bulan depan banyak kebutuhan

Mungkin ada beberapa karyawan yang lembur kerja untuk menambah pemasukan bulan depan. Setelah dihitung-hitung, mau beli gadget baru, tv, mesin cuci strika, jalan-jalan kesana kesini….lohhh kok kurang kayaknya ya, bisa celaka nih rasa-rasanya kalau gak keturutan. Merasa pemasukan bulanan tidak cukup untuk menunjang pengeluaran yang sifatnya barang kali tidak terlalu mendesak maka disiasatilah dengan pulang lebih lama dari biasanya. Karyawan memang selalu punya inisiatif lebih kalau sedang kepepet…zzzzz. Sebenarnya hal seperti ini tidak bisa dibenarkan karena memang akan menambah tanggungan perusahan.

  1. Pencitraan

Gak ada kerjaan yang mendesak tapi pulang larut malam terus, apalagi ada kerjaan bisa-bisa gak pernah pulang yak..hahahaha. Bisa jadi kerja lembur bukan karna ingin menyelesaikan kerjaan yang terbengkalai namun disisi lain mungkin untuk menarik simpati atasan. Bos pulang malam kalau bisa ya saya lebih malam lah, kalau gak pulang-pulang juga ya terpaksa saya yang pamit pulang duluan hahahaha. Disatu sisi mungkin ini baik buat menaikkan rating dihadapan atasan, namun disisi lain juga mungkin akan menjadikan pergunjingan bagi sesama rekan kerja. Saya rasa prestasi kita bisa ditunjukkan dengan kinerja dan atasan akan tahu yang memang sedang bekerja atau sedang bersandiwara.

  1. Datang terlambat

Sebelum tidur sudah komitmen pasang alarm jam 05.00, okee alarm berhenti tidur lagi, bangun sudah jam 08.30. Setiap hari kerja seperti itu, dengan datang terlambat tentu saja akan ada potongan baik itu uang transport atau yang lainya. Otak engineer memang kadang bekerja lebih cerdas dari biasanya, apalagi soal mengefesienkan peluang dan keadaan. Datang sudah terlambat nihh, yahh dari pada tekor kan mending lembur aja deh, lumayan buat nutup potangan akibat terlambat. Bisa-bisa malah lebih besar lemburan ketimbang potongan, namun alangkah lebih baiknya tidak terlambat dan bisa lembur.

  1. Nunggu jam macet

Hidup di Jakarta yang serba padet terutama untuk kendaraan bermotor bisa jadi alasan untuk menunda jam pulang. Sudah kerja capek, belum lagi pulang di jalan macet wahh..wahh jadi doubel lelahnya. Kepadatan jam pulang kantor bisa ditandai mulai jam 17.00-19.00, mungkin tidak berlaku sama untuk setaip wilayah. Berkaca dari situ bisa disetting mungkin dengan pulang jam 20.00. Pulang lebih lama bisa jadi keuntungan tersendiri, gimana tidak untung, sudah dapat lemburan, jalan mulai normal, sampai tujuan tepat waktu, dan bisa langsung istirahat. Tentu saja hal ini jangan diterapkan untuk yang rumahnya terlalu dekat atau terlalu jauh. Bisa-bisa yang terlalu jauh gak dapat angkutan lagi dan  lahhhh gak jadi pulang.

  1. Malas pulang cepat

Lagi banyak masalah dirumah nihh, mau melangkahkan kaki buat kembali kok berat banget rasanya, kayaknya dah betah banget di kantor dan rasanya dah kayak second home. Padahal niatnya mau tidur di kantor tapi kok gak disediain kasur zzzzz.Lihat cucian menumpuk di rumah, tinggal sendirian gak ada hiburan makin memperkeruh suasana lah. Alasan seperti ini sebenarnya jarang sekali saya alami, bahkan tidak pernah, karena sebisa mungkin buat saya datang sepagi mungkin dan pulang secepat mungkin. Namun ada beberapa sumber yang mengalami hal ini.

  1. Nyicil kerjaan

Akhir bulan mau cuti jalan-jalan tapi kok firasatnya bulan depat bakal dikejar-kejar owner nih buat progress project. Dari pada keburu-buru mending pelan tapi pasti kerjakan hal-hal yang mendasar terlebih dahulu, ntar detail yang sifanya komplementer bisa mendadak aja deh kalau memang dibutuhkan. Lupakan sejenak waktu buat nonton, shopping, dan yang lainya buat nyicil kerjaan, lumayan kan biar gak terlalu over pressure pas lagi padet-padetnya kerjaan. Lagian dengan tidak terburu-buru setidaknya dapat mengurangi risiko kemungkinan terbesar dari  human eror.

  1. Jabatan

Setiap petinggi yang memegang amanah penting dalam perusahaan pasti punya kebiasaan masing-masing untuk urusan waktu kerja. Dalam dunia konstruksi terutama untuk perusahaan konsultan struktur seperti tempat saya bekerja saat ini rata-rata hampir setiap hari yang punya jabatan penting jarang sekali pulang cepat. Mulai dari manager sampai direktur utamapun selalu pulang lebih malam ketimbang engineer pada umumnya. Tanggung jawab yang besar, jumlah proyek yang lebih banyak, harus mengoreksi kembali kerja engineeer, dan urusan relasi yang harus deselasikan secepatnya membuat jabatan menjadi salah satu hal yang membuat petinggi perusahaan harus kerja overtime.

    9. PDKT teman sekantor

Angin segar muncul ketika muncul desas-desus bakal ada anak baru nihh. Baru sebulan masuk tapi dah dikasih kepercayaan lebih, jadilah sitarget sering lembur dan pulang lebih malam. Tak ingin membuang kesempatan dan berniat menguji peruntungan akhirnya diputuskanlah maju secara independen untuk mendekati doi. Gak ada kerjaanpun dibela-belain lembur hanya untuk obrolan yang sepatah dua patah kata dan mungkin sangat tidak membantu untuk jalan kedepannya. Selang waktu tak begitu lama datanglah badai terdengar kabar bahwa si doi akan segera menikah dalam waktu dekat, sia-sia deh lemburnya…hahahahha.

Dari alasan- alasan di atas mungkin salah satunya yang pernah atau sering anda lakukan, namun menurut hemat saya selagi bisa kerja efektif sesuai jam kerja pulanglah tepat waktu. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan agar tidak terjebak dan tidak terlalu terpaku pada rutinitas kerja.

Jakarta, 17 April 2016

Berkah Dalem 🙂

 

Mengurus SKBS, SKBN,dan SKB-TBC di RSUD Tarakan

MCU
Ilustrasi Medical Check Up

Setelah mencari-cari info rumah sakit pemerintah yang terdekat dengan tempat tinggal saya sekarang, akhirnya saya putuskan untuk melakukan medical check up di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan yang lokasinya berada di Jakarta Pusat. Awalnya saya berencana akan ke Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, namun karena beberapa review yang menuliskan biaya untuk pengurusan Surat Keterangan Berbadan Sehat, Surat Keterangan Bebas Narkoba, dan Surat Keterangan Bebas TBC cukup mahal saya berfikir untuk ke rumah sakit umum daerah saja. Asumsi saya rumah sakit umum pusat lebih mahal dari pada rumah sakit umum daerah.

Hari senin pagi saya berangkat dari Kebon Jeruk dengan menggunakan ojek online menuju RS. Tarakan. Untuk akses kesana juga terhitung mudah karena ada halte Trans Jakarta yang persis di depan RS tersebut. Pukul 7.30 WIB sampai disana kemudian setelah bertanya kepada petugas saya diarahkan ke Poli Cendana yang letaknya di bagian belakang. Dari bagian depan naik ke lantai 2 kemudian melewati sky bridge ke gedung belakang kemudian naik lagi ke lantai 3. Karena saya tergolong pasien baru maka saya harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Petugas meminta KTP untuk pendataan identitas lalu kemudian diberi kartu pasien.

Setelah diberi kartu saya kemudian diarahkan kebagian MCU yang ada didekat bagian pendaftaran. Disana ada seorang ibu-ibu/suster yang cukup ramah dan sangat membantu saya sampai selesai. Dibagian MCU saya didata lagi dengan mengisi beberapa form salah satunya mengenai riwayat kesehatan dan ditanyakan untuk keperluan apa medical check upnya. Dalam hal ini surat-surat yang saya butuhkan di atas rencananya untuk digunakan sebagai syarat pendaftaran Beasiswa LPDP. Surat keterangan bebas TBC merupakan syarat untuk pendaftaran yang akan ke luar negeri. Setelah selesai pengisian form lalu saya di arahkan ke kasir untuk melakukan pembayaran. Untuk ketiga tes tersebut dikenakan biaya keseluruhan Rp. 522.000,00. Biaya yang cukup mahal untuk ukuran anak kos seperti saya ini.

Ternyata biaya untuk ketiga tes di atas gak jauh beda dengan di RSUP Fatmawati. Untuk SKB – TBC sebenarnya termasuk pemeriksaan paket luar negeri, namun karena tujuannya untuk beasiswa maka dari ketiga MCU di atas tidak terlalu mendetail. Biaya untuk full MCU tentu saja akan jauh lebih mahal. Urusan bayar membayar kelar kemudian saya kembali ke MCU diukur tensi, tinggi, berat, dan kemudian diperiksa oleh dokter disana. Next steps yaitu ke ruang sebelahnya untuk pengambilan sampel darah dan urin untuk pemeriksaan bebas narkoba.

Surat rujukan sudah dibuat kemudian saya kembali ke gedung depan di lantai dasar bagian radiologi untuk ronsen paru-paru yang akan digunakan sebagai indikator bebas TBC. Sewaktu ronsen saya diwajibkan untuk tidak memakai baju dan diisyratkan untuk memeluk alat yang ada di depan saya, wahhhh berasa banget deh jonesnya…zzzz. Pengurusan surat-surat tersebut tidak bisa selesai dalam sehari karena harus menunggu hasil  dan pengujian sampel darah dan urin. Oleh karena itu saya harus kembali lagi besoknya dan tentu saja harus bolos kerja. Habis dehh gaji bulan ini dipotong, ckckckckck.

Hari Ke  – 2

Hari ini saya dijadwalkan untuk pemeriksaan di Poli Paru di gedung depan. Setelah mendapatkan surat rujukan dari MCU kemudian meluncur kesana dengan hasil ronsen kemaren. Sudah datang pagi ternyata harus menunggu dokternya karena belum datang. Sebenarnya sudah daftar duluan tapi dokternya memprioritaskan yang sakit terlebih dahulu. Maka jadilah saya yang ada dipaling akhir sesi sebelum makan siang dan Poli tutup. Tenyata gak lama di Poli Paru cuma di lihat hasil ronsennya kemudian ditanya mau ambil beasiswa kemana, sudah kerja apa belom, dan pertanyaan seputar hidup dan tujuan saya. Keadaan di Poli Paru saya rasa lebih berwarna yaa karena ada beberapa koas dokter yang bening-bening jadi agak terobati lah masa penantiannya..hehehhee.

Kembali ke bagian MCU dengan hasil dari Poli paru lalu susternya menyuruhku makan siang terlebih dahulu karena tahu capek bolak-balek dari pagi. Mumpung di daerah Cideng sekalian lah ngajak makan siang Yati dan Monica yang kebetulan kerja di daerah sana. Bisa sambil cerita-cerita sambil makan di kantin rumah sakit lahhh. Jam 13.00 WIB kembali ke atas untuk mengambil hasilnya  dan puji tuhan ternyata semuanya normal dan yang terpenting saya bisa melangkah untuk melengkapi beberapa persyartan selanjutnya.

Semoga ini bisa menjadi bagian dari kisah kedepan saya. Dan buat teman-teman yang berencana akan membuat surat-surat di atas datanglah sepagi mungkin untuk menghidari antrian karena rumah sakit umum pemerintah selalu ramai. Selamat berjuang dan semoga kalian selalu sehat.

Jakarta, 9 Maret 2016

Berkah Dalem 🙂