1000 Friends

1000

 

“One enemy is too many; a hundred friends too few”.

I started to write on this blog at 2014. After 4 years finally I have more than 1000 friends with different background. One thing that I know, all of you love to share good idea, knowledge, and experience . Thank you for being part of my blog.

 

Jakarta, 17 October 2018

Berkah Dalem 🙂

Advertisements

Kerja Sambil Kuliah, Apa enaknya???

WVSS

Punya pekerjaan mapan di perusahaan ternama dengan gaji fantastis setelah tamat kuliah adalah idaman setiap orang. Punya pendidikan tinggi dengan gelar bergengsi dari universitas top bagi sebagian orang juga merupakan hal yang diidam-idamkan. Apalagi kalau bisa menduetkan keduanya dalam satu waktu, tentu saja akan terasa komplit perjalanan hidup kita. Sudah tamat S1 dan bekerja di perusahaan dengan gaji yang dibilang yaaa cukup lumayan lah buat mulai menapaki hidup tanpa bergantung pada orang tua. Namun jauh dilubuk hati paling dalam kok sempat terbesik pikiran pengen buat study lagi. Entah menganggap bekal ilmu yang dipunyai sekarang kurang, atau merasa sepertinya jalan hidup kita bukan di dunia kerja sekarang.

Beberapa pilihan yang bisa dibuat untuk menyiasati kegundahan semacam ini adalah kalau bukan resign dari perusahaan lalu kuliah full time yaaa kerja sambil kuliah. Pemandangan seperti ini sepertinya sudah tidak asing di Jakarta, apalagi sudah banyak universitas yang membuka kelas malam bagi karyawan atau juga ada kelas E- Learning yang tatap muka bisa dilakukan saat week end. Bersyukurlah kalau perusahaan mensupport karyawannya yang punya semangat buat maju dan antusias untuk study lagi, asal tetap professional menyikapi urusan kantor dan kampus. Bahkan kampus negeri seperti UI juga  sekarang sudah menyelenggarakan kelas malam untuk beberapa jurusan dan peminatan tertentu, sayangnya peminatan yang saya inginkan tidak dibuka untuk kelas keryawan. Padahal belum tentu juga diterima disana….zzzzzzz.

Sebenarnya saya bukan pemeran utama dalam hal ini, namun berdasarkan pantuan saya terhadap karyawan yang kerja sambil kuliah ditempat saya bekerja saat ini, saya bisa menjabarkan apa sih enaknya kerja sambil kuliah. Ruang lingkupnya saya batasi pada enak-enaknya saja yaa, ntar kalau dikasih tau gak enaknya malah hilang niat kuliah lagi..ckckckck. Setidaknya ada empat hal yang bisa saya simpulkan dari survei saya dalam beberapa tahun belakangan ini.

Efisiensi fasilitas kantor

Kehidupan mahasiswa gak akan jauh-jauh dari kertas dan printer, selagi ada yang bisa gratis kenapa gak dimaksimalkan aja kan..hehehehe. Bisa menghemat beberap ribu kan lumayan bisa buat beli cilok kalau lagi lapar. Bersyukurlah kalau bisa bekerja dilingkungan kantor yang terlalu mempersoalkan pengunaan fasilitas kantor. Kalau lagi ada jam-jam kosong bisalah curi-curi print jurnal, makalah, atau tugas yang jumlahnya gak seberapa tapi sering..zzzzzz, asal gak print satu rim aja yaaa. Komputer kantor barangkali juga bisa dimanfaatkan secara lagi kerjaain tugas akhir butuh sofware terbaru dengan spesifikasi komputer yang cukup tinggi buat running program. Selagi kerja bisa juga kerjaain thesis, kerjaan selesai thesis jalan teruss, alangkah senangnya kannn..hehehehe

Beasiswa mandiri

Tidak semua dari kita lahir dari keluarga berada pastinya. Orang tua sudah mewanti-wanti “Jatahmu sekolah sampai S1, sekarang giliran adik-adikmu, kalau mau sekolah lagi ya cari beasiswa atau pakai uang sendiri”. Mungkin ada satu dari antara kita ada yang punya pengalaman demikian, barangkali juga yang saya alami. Beasiswa mandiri yang saya maksudkan adalah sekolah hasil dari keringat sendiri tanpa merepotkan uang tua lagi. Lahhh ngabisin duit gaji dimana enaknya???, jauh diluar kata enak bisa jadi sebuah kepuasan tersendiri, setidaknya kita bisa membuktikan kepada orang lain bisa hidup dan study lagi tanpa campur tangan orang tua lagi. Teman-teman dilingkungan kantor sebagian sudah sibuk mempersiapkan KPR rumah, tabungan buat nikah, ehhhh gaji kita masih berkutat buat biaya semesteran. Tapi gak apalah pendidikan kan juga bagian dari investasi, lagian investasi ilmu gak ada kadaluarsanya, makin diupgrade makin sippp lah.

Jam terbang tinggi  + Gelar mentereng

Apa yang perusahaan inginkan saat anda mendaftar kesebuah tempat baru? Pengalaman kerja? YES, jenjang pendidikan tinggi? YES. Satelah setahun bekerja dan didaulat sebagai karyawan tetap, anda memutuskan meminta izin atasan untuk kerja sambil kuliah. Jika dihitung-hitung dengan masa studi magister yang notabenya adalah dua tahun dan ditambah dengan setahun masa kerja awal sebelum studi maka setelah lulus anda sudah punya pengalaman kerja selama 3 tahun. Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui, sudah punya pengalam 3 tahun + gelar M.T, M.Si, M.M, atau yang lainnya, wahh….wahhh menang banyak bandar kalau dihitung-hitung kan. Dengan pengalaman kerja yang cukup lama dan gelar S2 setidaknya jika anda berniat untuk mencari tantangan baru di dunia kerja maka itu akan sangat membantu sekali. Beberapa perusahaan asing di Indonesia juga menetapkan kualifikasi tinggi untuk posisi-posisi tertentu, bisa jadi itu patut anda pertimbangkan.

Hemat Usia

Setiap orang punya prinsip masing-masing untuk urusan pendidikan. Bekerja keras dulu agak 2-3 tahun setelah dirasa tabungannya cukup kemudian baru melanjutkan studi mungkin bisa jadi opsional, namun kalau bisa kerja sambil kuliah why not yakk. Masalahnya dihitung pakai  jari tangan dan kaki kok sudah gak cukup ni umur kita tahun ini, mesti antisipasi ni biar bisa hemat usia dengan kerja sambil kuliah. Bener sih ada yang bilang belajar tidak mengenal usia dan waktu tapi, alangkah senangnya kalau bisa menyandang gelar S2 semuda mungkin biar masa bakti dan produktivitas kita di dunia kerja cukup lama. Semakin tua saya rasa juga daya tangkap semakin menurun, semangat memang masih 45, tetapi kadang usia juga gak bisa bohong. Jadi kendala-kendala semacam ini bisa dicarikan solusi dengan kerja sambil kuliah, jika dirasa memang perlu dan siap.

Setinggi-tingginya gelar yang kita dapatkan pada akhirnya juga akan sangat bermanfaat dan berguna jika diaplikasikan di dunia kerja. Kerja juga bisa apa saja kan yang penting punya value buat diri sendiri dan orang lain. Maka dari itu mau kuliah full time atau kerja sambil kuliah kembali lagi pada motivasi dan tujuan hidup anda kedepan.

Jakarta, 5 Mei 2016

Berkah Dalem 🙂

Kenapa Harus Lembur ???

“Lembur” adalah satu kata yang bisa menunjukkan status sosial suatu individu. Setidaknya dengan berkata “saya sedang lembur” bisa ditangkap bahwa orang ini punya kesibukan yang padat atau pekerjaan yang cukup strategis untuk dijadikan calon pasangan..hahahahha. Kerja overtime adalah hal menyiksa bagi sebagian karyawan namun disisi lain bisa mendatangkan rezeki lebih. Berikut saya paparkan dari beberpa sumber yang telah saya himpun mengapa harus kerja lembur.

  1. Project dikejar deadline

Hari ini lembur, besok lembur, lahh lahh besoknya kok masih harus lembur lagi, bisa didaulat jadi pemeran utama serial  ” Man Of The Overtime” nih. Untuk alasan yang satu ini kerja lembur memang tidak bisa ditunda-tunda karena sudah bagian dari tanggung jawab dan sifatnya memang mendesak. Kerja kerja, kerja, layaknya slogan kabinet Pak Jokowi saat ini wajib dilakukan pada sesi ini, bisa jadi dalam fase ini rasanya kok 1×24 jam masih kurang yaaa, mau lapor juga bingung sama siapa, padahal yang belum disentuh masih seabrek. Mau istirahat ingat kerjaan, mau makan ingat kerjaan, kemana-mana ingat kerjaan ohhhh kok lebih deg-deg an ya ketemu bos waktu kerjaan deadline timbang ketemu mantan…ckckckckck.

  1. Bulan depan banyak kebutuhan

Mungkin ada beberapa karyawan yang lembur kerja untuk menambah pemasukan bulan depan. Setelah dihitung-hitung, mau beli gadget baru, tv, mesin cuci strika, jalan-jalan kesana kesini….lohhh kok kurang kayaknya ya, bisa celaka nih rasa-rasanya kalau gak keturutan. Merasa pemasukan bulanan tidak cukup untuk menunjang pengeluaran yang sifatnya barang kali tidak terlalu mendesak maka disiasatilah dengan pulang lebih lama dari biasanya. Karyawan memang selalu punya inisiatif lebih kalau sedang kepepet…zzzzz. Sebenarnya hal seperti ini tidak bisa dibenarkan karena memang akan menambah tanggungan perusahan.

  1. Pencitraan

Gak ada kerjaan yang mendesak tapi pulang larut malam terus, apalagi ada kerjaan bisa-bisa gak pernah pulang yak..hahahaha. Bisa jadi kerja lembur bukan karna ingin menyelesaikan kerjaan yang terbengkalai namun disisi lain mungkin untuk menarik simpati atasan. Bos pulang malam kalau bisa ya saya lebih malam lah, kalau gak pulang-pulang juga ya terpaksa saya yang pamit pulang duluan hahahaha. Disatu sisi mungkin ini baik buat menaikkan rating dihadapan atasan, namun disisi lain juga mungkin akan menjadikan pergunjingan bagi sesama rekan kerja. Saya rasa prestasi kita bisa ditunjukkan dengan kinerja dan atasan akan tahu yang memang sedang bekerja atau sedang bersandiwara.

  1. Datang terlambat

Sebelum tidur sudah komitmen pasang alarm jam 05.00, okee alarm berhenti tidur lagi, bangun sudah jam 08.30. Setiap hari kerja seperti itu, dengan datang terlambat tentu saja akan ada potongan baik itu uang transport atau yang lainya. Otak engineer memang kadang bekerja lebih cerdas dari biasanya, apalagi soal mengefesienkan peluang dan keadaan. Datang sudah terlambat nihh, yahh dari pada tekor kan mending lembur aja deh, lumayan buat nutup potangan akibat terlambat. Bisa-bisa malah lebih besar lemburan ketimbang potongan, namun alangkah lebih baiknya tidak terlambat dan bisa lembur.

  1. Nunggu jam macet

Hidup di Jakarta yang serba padet terutama untuk kendaraan bermotor bisa jadi alasan untuk menunda jam pulang. Sudah kerja capek, belum lagi pulang di jalan macet wahh..wahh jadi doubel lelahnya. Kepadatan jam pulang kantor bisa ditandai mulai jam 17.00-19.00, mungkin tidak berlaku sama untuk setaip wilayah. Berkaca dari situ bisa disetting mungkin dengan pulang jam 20.00. Pulang lebih lama bisa jadi keuntungan tersendiri, gimana tidak untung, sudah dapat lemburan, jalan mulai normal, sampai tujuan tepat waktu, dan bisa langsung istirahat. Tentu saja hal ini jangan diterapkan untuk yang rumahnya terlalu dekat atau terlalu jauh. Bisa-bisa yang terlalu jauh gak dapat angkutan lagi dan  lahhhh gak jadi pulang.

  1. Malas pulang cepat

Lagi banyak masalah dirumah nihh, mau melangkahkan kaki buat kembali kok berat banget rasanya, kayaknya dah betah banget di kantor dan rasanya dah kayak second home. Padahal niatnya mau tidur di kantor tapi kok gak disediain kasur zzzzz.Lihat cucian menumpuk di rumah, tinggal sendirian gak ada hiburan makin memperkeruh suasana lah. Alasan seperti ini sebenarnya jarang sekali saya alami, bahkan tidak pernah, karena sebisa mungkin buat saya datang sepagi mungkin dan pulang secepat mungkin. Namun ada beberapa sumber yang mengalami hal ini.

  1. Nyicil kerjaan

Akhir bulan mau cuti jalan-jalan tapi kok firasatnya bulan depat bakal dikejar-kejar owner nih buat progress project. Dari pada keburu-buru mending pelan tapi pasti kerjakan hal-hal yang mendasar terlebih dahulu, ntar detail yang sifanya komplementer bisa mendadak aja deh kalau memang dibutuhkan. Lupakan sejenak waktu buat nonton, shopping, dan yang lainya buat nyicil kerjaan, lumayan kan biar gak terlalu over pressure pas lagi padet-padetnya kerjaan. Lagian dengan tidak terburu-buru setidaknya dapat mengurangi risiko kemungkinan terbesar dari  human eror.

  1. Jabatan

Setiap petinggi yang memegang amanah penting dalam perusahaan pasti punya kebiasaan masing-masing untuk urusan waktu kerja. Dalam dunia konstruksi terutama untuk perusahaan konsultan struktur seperti tempat saya bekerja saat ini rata-rata hampir setiap hari yang punya jabatan penting jarang sekali pulang cepat. Mulai dari manager sampai direktur utamapun selalu pulang lebih malam ketimbang engineer pada umumnya. Tanggung jawab yang besar, jumlah proyek yang lebih banyak, harus mengoreksi kembali kerja engineeer, dan urusan relasi yang harus deselasikan secepatnya membuat jabatan menjadi salah satu hal yang membuat petinggi perusahaan harus kerja overtime.

    9. PDKT teman sekantor

Angin segar muncul ketika muncul desas-desus bakal ada anak baru nihh. Baru sebulan masuk tapi dah dikasih kepercayaan lebih, jadilah sitarget sering lembur dan pulang lebih malam. Tak ingin membuang kesempatan dan berniat menguji peruntungan akhirnya diputuskanlah maju secara independen untuk mendekati doi. Gak ada kerjaanpun dibela-belain lembur hanya untuk obrolan yang sepatah dua patah kata dan mungkin sangat tidak membantu untuk jalan kedepannya. Selang waktu tak begitu lama datanglah badai terdengar kabar bahwa si doi akan segera menikah dalam waktu dekat, sia-sia deh lemburnya…hahahahha.

Dari alasan- alasan di atas mungkin salah satunya yang pernah atau sering anda lakukan, namun menurut hemat saya selagi bisa kerja efektif sesuai jam kerja pulanglah tepat waktu. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan agar tidak terjebak dan tidak terlalu terpaku pada rutinitas kerja.

Jakarta, 17 April 2016

Berkah Dalem 🙂

 

SEPATAH KATA TERUNTUK “JOGJA”

Untuk kalian yang ditinggal pergi setelah lama disini, yang belum sempat dimiliki tapi selalu singgah dimimpi, diperjuangkan dan diusahakan sepenuh hati, lama dinanti tapi tak kunjung menepi, hingga berfikir cukup dengan yang bisa membuat nyaman disisi, didambakan lantas mendamkan, menertawakan ataupun ditertawakan, kecewa atau megecewakan, menasehati sampai dinasehati. Yaaappp sepenggal kisah hidup ane terlalu sangat berkesan dikota ini, hingga esok ane akan pergi untuk menguji peruntungan di ibu kota. Besar harapan ane dapat kembali ke kota ini untuk melajutkan study dan merampungkan salah satu misi ane ndan.

29 November 2014 rasanya sangat istemewa buat ane ndan terlebih buat keluarga ane karena ane orang kedua yang bisa mencapai gelar sarjana dari semua anak ataupun cucu dari nenek ane, hari ini ane SAH!!! Bergelar ST.,demikian para moderator beberapa kali menyebut nama ane, gak banyak sih Cuma terhitung dua kali kayaknya dari pelepasan hingga wisuda. Jatah 4 tahun kuliah S1 kayaknya bener-bener ane gunain sangat efisien dan ekonomis yak yaaa walau sedikit tertinggal dari jones..jones seangkatan ane, TAPI jujur selama ini merekalah yang selama ini selalu support dan menguatkan ane wkwkwkkwk.

Terlalu banyak pihak yang berperan dalam pencapaian awal ini, jika bisa disebutkan satu persatu barang kali kuota jatah di wordpress ini bisa penuh, tanpa mengurangi rasa hormat kiranya akan ane rinci beberapa komponen yang bisa tersematkan dalam ucapan terima kasih ini.

  • Prof., Ir. Yoyong Arfiadi, M. Eng., Ph.D.
  • Seluruh dosen UAJY.
  • TBK SQUAD 2013 ( Jon Boby, Jon Henri, Jon Petrus, Jon Hanavi, Princess Geby, Jon Paul, Jon Sigit).
  • KUSAMER’S ( Nurvita, Frima, Chandra, Geby).
  • CIVILED (Dedymus, Ito, Dodot, Pra Randy, Ayub, Aris, Ibnu, Eta, Chatrin, Naomi, Bintang, Dodi, Iyus, Audi, Dedi atong).
  • KKN 64 Sanglor 2 ( Bang sigap, Puguh, Bang Ardy, Yohana, Freda, Putri, Siska, Angel).
  • Seluruh CIVIL 2010.
  • Civitas UAJY.
  • Seluruh pihak yang tak sempat ane sebutkan satu persatu mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Yang datang memang harus pergi, yaa hukum alam selalu begitu. Semoga kita bisa berjumpa lagi dilain kesempatan. Walau gak ada yang disinggahi ternyata ninggalin jogja mrebes juga jon..halahhh. Walau yang pergi tak harus kembali, tapi dengan sekuat daya ane ingin mewujudkan mimpi lagi dikota ini.

Yogyakarta, 30 November 2014

Berkah Dalam 🙂

KUSAMER’S

Tidak banyak yang tau arti dibalik nama yang kelihatannya keren bila dieja oleh kawanan bangsawan eropa ini,, mimipi-mimpi gila yang belum pasti,belum pernah bahkan terwujud *(barang kali) didengungkan,dikumandangkan oleh pihak yang menyebut dirinya kusamer’s. Kaum kusam yakkkk…demikian kami menyebutnya, bukan gembel yang tak punya tujuan hidup, SEKEDAR filosofi yang menggambarkan bahwa kami memulai semuanya dari bawah.

Berangkat dari daratan bagian utara sumatera berbekal seadanya, bersaing dengan deretan anak-anak yang sudah tersah matang diibu kota jogja bukan perkara mudah BANG!!..jatuh diawal bisa jadi pukulan telak yang harus dihadapi agar bisa survive. Mengenali potensi, mengasah , kemudian bangkit dari dari kawanan kaum kusam mungkin cita-cita mulia ya??? ya idealnya memang begitu.

Belum banyak yang bisa diceritakan karena memang ini tulisan yang dipublish pertama. Mau jadi engineer apa penulis???tentunya jadi engineer yang bisa nulis kayak Wiryanto Dewobroto. Cukup realistis “mungkin” .

Yogyakarta, 4 September 2014

Berkah Dalem 🙂