Beton SCC (Self-Consolidating Concrete)

Setelah terjun ke dalam dunia kontraktor selama beberapa purnama akhirnya saya menemukan banyak sekali hal-hal baru yang sebelumya belum pernah saya amati. Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya tentang pengecoran dengan menggunakan beton SCC. Pengamatan saya bermula ketika diminta untuk menjadi QC disalah satu proyek gedung yang diklaim akan menjadi gedung tertinggi di Indonesia selama beberapa dekade yang akan datang. Dalam konteks kali ini yang akan dicor yakni Mat Foundation dengan tulangan yang saya sebut SSR (Super Sangat Rapat), itu hanya penyebutan saya saja. Bagi temen-temen yang belum tau atau mengenal tentang beton SCC akan saya share sedikit pengalaman saya disini.

Jadi beton SCC itu adalah: ” Self-consolidating concrete (SCC),beton yang sangat  flowable, beton yang tidak mengalami segeregasi dan bisa menyebar ke dalam tempatnya, mengisi bekesting, dan penguatan tanpa adanya konsolidasi mekanis. Secara umum SCC dibuat untuk beton dengan bahan beton konvensional dan, dalam beberapa kasus, dengan campuran pengubah viskositas (VMA), SCC juga telah dideskripsikan sebagai self-compacting concrete, self placement concrete, dan self-leveling concrete, yang semuanya merupakan himpunan bagian dari SCC.”

Keuntungan Beton SCC (ACI 237R-07)

  • Mengurangi tenaga kerja dan peralatan
  • Tidak perlu vibrator untuk memastikan konsolidasi yang tepat.
  • Mengurangi kebutuhan untuk memastikan level permukaan (self-leveling characteristic).
  • Memungkinkan pengecoran beton sesuai yang diinginkan dengan tidak bergantung pada crew vibrator;
  • Mempercepat konstruksi melalui tingkat pengecoran yang lebih tinggi atau penempatan dan durasi konstruksi yang lebih pendek.
  • Memfasilitasi dan memperlancar pengisian yang sangat diperkuat bagian dan bekesting yang kompleks sambil memastikan kualitas konstruksi yang baik, mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan biaya, atau keduanya;
  • Memungkinklan lebih banyak fleksibilitas dalam menyebarkan poin penempatan selama casting. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan pergerakan truk angkut dan kebutuhan untuk memindahkan jalur pompa ke tempat pengecoran. Fleksibilitas yang lebih besar dalam menjadwalkan kegiatan konstruksi dan pengadaan sumber daya yang dibutuhkan .
  • Mengurangi kebisingan di tempat kerja (terutama di daerah perkotaan dan bagian yang tidak mengijinkan getatan berat untuk konsolidasi.
  • Mengurangi cidera tenaga kerja dengan cara yang lebih aman.
  • Mengijinkan lebih banyak fleksibilitas untuk merinci pengutaan.
  • Membuat permukaan lebih halus.
  • Menghilangkan kebutuhan bahan seperti underlayments, yang digunakan untuk tingkat dan mempersiapkan substrat untuk bahan lantai akhir.

Disamping keuntungan yang cukup banyak di atas yang menjadi point negative yakni beton SCC cukup mahal jika dibandingkan dengan beton konvensional. Jadi jika tidak dalam keadaan yang memang perlu beton konvensional tetap akan jadi pilihan utama.

Menghitung Karakteristik Beton SCC

Kamampuan pengisian (deformability) dan stabilitas

ASTM C 1611 / C 1611M (Aliran Slump SCC

Tes aliran slump adalah ukuran kemampuan campuran untuk mengisi rongga. Tes ini dilakukan sama dengan uji slump konvensional dengan menggunakan standar ASTM C 143 / C 143M kerucut slump.

Passing ability

J-ring

J-ring terdiri dari cincin tulangan yang akan dipasang disekeliling dasar kerucut ASTM C 143/C 143 M kerucut slump. Kerucut slump diisi dengan beton dan kemudian diangkat dengan cara yang sama seperti pengujian slump. Penyebaran terakhir dari beton diukur, dan perbedaan antara nilai slump konvensional dan nilai aliran J-ring slump dihitung.

L- box

Uji L-box terdiri dari wadah berbentuk L yang terbagi menjadi bagian vertikal dan bagian horisontal. Pintu geser memisahkan bagian vertikal dan horisontal. Hambatan 3 tulangan bisa diposisikan dibagian horisontal bersebelahan dengan pintu geser. Bagian vertikal dari wadah diisi dengan beton dan pintu gesernya segera dipindahkan, sehingga beton mengalir melalui rintangan bagian horisontal. Tinggi beton kiri di vertikal bagian (h1) dan pada akhir horisontal pada bagian (h2) diukur. Itu rasio h2/h1 dihitung sebagai rasio pemblokiran.

Stabilitas

Segregasi Kolom

Pengujian ini mengevaluasi stabilitas statis campuran beton dengan mengkuantifikasi segregasi agregat. Tes ini terdiri dari pengisian 26 inci (610 mm) tinggi kolom dengan beton. Beton diijinkan tegak selama 15 menit setelah penempatan. Setiap bagian dihilangkan secara terpisah,  dari beton itu. Bagian dicuci di atas saringan No 4 (4,75 mm), dan agregat yang tersisa ditimbang. Campuran nonsegregasi akan konsisten terdistribusi massa agregat antara bagian atas dan bawah. Segregasi akan memiliki konsentrasi agregat yang lebih tinggi pada bagian bawah.

Dalam kondisi real setiap Truck Mixer yang masuk sebelum dituang ke mesin pompa harus duji terlebih dahulu dengan menggunakan Slump Cone dan Flow Table. Nilai penyebaran harus sesuai yang telah direncanakan dan pihak penyedia beton juga telah menyepakati nilai slumpnya. Berikut akan saya bagikan video eksklusif bagaimana cara pengujian beton SCC yang saya rekam menggunakan hangpon jadul.

 

Jakarta, 31 Maret 2018

Berkah Dalem 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Beton SCC (Self-Consolidating Concrete)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s