SKCK Sebagai Syarat Beasiswa

SKCK pada umumnya diperlukan saat kita hendak akan mengikuti tes masuk PNS, tes masuk institusi pemerintahan, syarat masuk kerja, atau yang lainnya. Berikut ini akan saya jelaskan rentetan pengurusan SKCK yang tujuannya sebagai syarat pelengkap beasiswa.

  1. Surat Pengantar dari RT, RW, Dukuh, Kelurahan

Langkah awal yang harus dilakukan adalah mendatangi perangkat desa mulai dari tingkatan terbawah dimana domisili saya tinggal sesuai KTP yang masih berlaku. Mulailah pergi ke tempat Pak RT terlebih dahulu dan menyapaikan maksud dan tujuan pembuatan SKCK sembari membawa Foto Copy KK atau KTP. RT setempat akan menyiapkan form yang nantinya akan ditanda tangani dan diberi stempel oleh RW, Dukuh, dan Kelurahan. Untuk meminta surat pengantar dari RT, RW, dan Dukuh sendiri saya lakukan dihari yang berbeda, barulah ke-esokan harinya saya baru pergi ke Kelurahan. Berikut yang harus disiapkan untuk pengurusan surat pengantar ditingkat awal ini:

  • Biaya Administrasi 10.000,00 (di Kelurahan)
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP

Setelah diberi Stempel dan Tanda Tangan maka saya selanjutnya diarahkan oleh petugas kelurahan untuk mengujungi Kantor Polisi Sekitar yang terdekat dengan domisili.

  1. Surat Pengantar dari Polsek

Sekitar pukul 08.00 saya sudah ada di kantor Polsek yang ada di Jl. Solo dekat dengan Ambarukmo Plaza. Petugas kemudian meminta beberapa persyaratan seperti yang saya tulisankan di bawah ini serta tujuan penggunaan SKCK-nya. Jika tujuannya untuk melajutkan studi maka akan ditanyakan studi di dalam atau di luar negeri. Di kantor Polsek ini sebenarnya diminta Pas Foto dengan background merah, namun karena yang pertama saya keluarkan background biru jadi kata petugasnya gak papa. Ini adalah berkas yang perlu disiapakan saat di Polsek:

  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Pas Photo 4×6 Dua Lembar (Background Merah)
  • Surat Pengantar dari RT, RW, Dukuh, dan Kelurahan

Setelah pengantar selesai diketik kemudian petugas memberikan arahan agar saya menuju Polres Sleman yang berada di Jl. Magelang. Pembuatan surat pengantar di kantor Polsek ini tidak dimintai biaya, namun biasanya jika mengurus surat yang lainya petugas hanya bilang “Sukarela”.

  1. Surat Pengantar dari Polres

Setibanya di kantor pengurusan SKCK di Polres saya diarahkan kebagian pencatatan sidik jari terlebih dahulu karena sebelumnya saya belum pernah mempunyai semacam kartu rekam tentang sidik jari. Untuk pengurusan sidik jari yang perlu anda siapkan adalah:

  • Biaya Administrasi 10.000,00
  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Pas Photo 4×6 Atau 3×4 Satu Lembar (Background Merah/Biru)

Sebelum perekaman sidik jari saya terlebih dahulu diminta untuk mengisi data diri dan riwayat hidup. Perekaman sidik jari dilakukan secara manual yang biasanya dengan tinta dan elektronik… maklum jaman makin canggih. Saya kemudian diberikan kartu sidik jari yang berisi semacam susunan huruf dan angka. Kartu tersebut lalu saya foto copy terlebih dahulu sebelum menuju ruang pengurusan SKCK. Petugas di ruang pengurusan SKCK juga menanyakan untuk tujuan lanjut studi dalam atau luar negeri. Blanko yang berisi pertanyaan seputar data diri dan riwayat catatan hukum diberikan terlebih dahulu, barulah setelah itu surat pengantar saya diproses. Persiapkanlah dokumen dan perlengkapan ini saat anda di Polres:

  • Biaya Administrasi 10.000,00
  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Foto Copy Kartu Sidik Jari
  • Pas Photo 4×6 Empat Lembar (Background Merah)
  • Surat Pengantar dari Polsek

Berbekal sepucuk surat kemudian petugas memberi komando agar saya melanjutkan tahapan terakhir di Polda DIY.

  1. Polda

Mencari alamat Polda DIY tidak begitu susah yaa, letaknya ada di Jalan Ring Road Utara persis di depan Mall Hartono. Mall ini konon katanya adalah mall terbesar se DIY- Jateng. Begitu melewati pintu gerbang saya langsung disapa oleh petugas penjaga dengan wajah yang cukup serius dan suara tegas, sesuai prosedur yang berlaku memang tamu wajib lapor. Saya diminta untuk membuka masker dan kaca penutup helm , wahh..wahh cukup deg-degan masuk markas polisi dengan pelat motor mati dan sempat ketahuan melawan arah sebelum masuk gerbang.

Ruangan tempat pengurusan SKCK di Polda DIY ada sederatan dengan pos penjagaan yang tidak jauh dari pintu gerbang. Berkas dan persyaratan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut:

  • Biaya Administrasi 10.000,00
  • Foto Copy Akta Kelahiran
  • Foto Copy KK
  • Foto Copy KTP
  • Pas Photo 4×6 Satu Lembar (Background Merah)
  • Surat Pengantar dari Polres

Pertanyaan yang sama kembali ditanyakan petugas perihal tujuan SKCK untuk lanjut studi dalam atau luar negeri. Petugas di ruangan pengurusan SKCK kemudian memberikan blanko yang harus saya isi terlebih dahulu. Blanko ini sama dengan yang diberikan saat di Porles, isinya mengenai data diri dan riwayat catatan pelanggaran kalau pernah bersangkutan dengan kasus hukum. Tak butuh waktu lama setelah blanko dikembalikan petugas segera memproses SKCK-nya. Berikut adalah rangkuman estimasi waktu dan biaya yang saya habiskan dalam pengurusan SKCK ini.

  1. Kelurahan  = 15 Menit
  2. Polsek         = 30 Menit
  3. Polres          = 45 Menit   (*Termasuk pengurusan sidik jari (20 Menit)
  4. Polda            = 30 Menit
  5. Biaya Total yang saya keluarkan = Rp. 40.000,00

Jadi dalam pengurusan SKCK ini bisa dilakukan dalam sehari asalkan memulainya sepagi mungkin dan Surat pengantar dari RT, RW, dan Dukuh sudah diurus dihari sebelumnya. Pelayanan petugas dimasing-masing instansi saat ini juga sangat cepat dan jelas arahannya sehingga saya tidak bingung. Demikian Catatan ini saya buat semoga bermanfaat.

Jakarta, 21 Juli 2016

Berkah Dalem 🙂

IELTS Cambridge VS IELTS Barron’s

BR89

Gbr. Serial buku Barron’s dan Cambridge

Kembali saya akan sharing tentang pengalaman saya mempersipkan diri untuk  mengikuti tes IELTS tgl 21 Mei 2016 di IALF Kuningan. Kali ini saya akan mereview tentang dua buku yang saya gunakan sebagai amunisi sebelum “ Panas dikening dan Dingin dikenang.” Setelah 13 hari tes keluar maka saya harus menerima kenyataan bahwa saya gagal untuk tes IELTS perdana. Bagimana tidak panas dikening kalau soalnya memang luar biasa makyuss dan dingin dikenang kalau mesti merelakan 2,85 juta  dengan hasil yang kurang menggembirakan. Sebenarnya dalam IELTS tidak ada kata gagal, hanya saja saya belum mampu mencapai skor yang ditargetkan. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena memang persiapan yang tidak terlalu matang dan terkesan memaksakan diri. Jauh dari sekedar pengalaman ini bisa jadi pembelajaran dan intropeksi diri melihat sisi-sisi kelemahan yang saya punya.

Jika anda sedang mencari buku yang recommended untuk persiapan tes IELTS secara mandiri maka beberapa sumber akan merujuk pada dua buku pada judul besar di atas. Faktanya ada banyak sekali media untuk belajar IELTS dan buku adalah salah satunya yang paling sering digunakan untuk mengetahui trik-trik soal, ataupun pembahasannya. Berdasarkan pengamatan saya masing-masing buku ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing .Kedua buku di atas dapat dibeli dibeberapa toko buku besar seperti Gramedia dan Kinokuniya, namun gak disemua gramedia ada sepertinya, entah karena stoknya habis ataupun memang tidak memasarkan buku tersebut. IELTS Cambridge sampai saat ini kalau tidak salah sudah sampai seri ke-10, dan semakin tinggi serinya semakin mahal pula harganya. Dari sisi harga buku Barron’s lebih terjangkau buat mahasiswa dan anak kos-kosan, terdapat paket hemat yang terdiri dari 3 buku seharga 500 ribuan karena diskon. Download pdf dan audionya juga bisa jadi alternatif kalau uang lagi seret buah beli yang original, tapi kalau punya uang berlebih alangkah baiknya jika membeli yang asli untuk mendapatkan cetakan dan kertas bagus sekaligus wujud apresiasi kita terhadap pembuat buku.

Bagi awam lagi-lagi buku bagus gak menjamin seseorang untuk bisa meraih skor tinggi kalau tidak diimbangi dengan kerja keras dan doa yang tak henti-hentinya. IELTS bukan tes mudah yang bisa dipelajari hanya dengan  bekal waktu seminggu untuk ukuran individu yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan seperti saya. Bahkan untuk orang yang punya basic bagus in english dan pernah tinggal dinegara yang menggunkan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar saja masih dibela-belain buat ambil preparation class yang jelas saja tidak murah, bahkan biaya untuk preparationnya bisa dua kali lihat biaya tes, makjlebb banget kalau buat karyawan lah. Kebanyakan dari mereka mengambil kelas preparation yang difokuskan pada sesi writing dan speaking, karena memang untuk dua sesi ini butuh keberadaan orang lain untuk memberi penilaian. Butuh latihan rutin dan tertata untuk mendapatkan hasil maksimal jika mengincar skor yaaaa minimal 6,5 All band lahh sebagai syarat untuk mendaftar beasiswa maupun universitas di luar negeri.

Latihan secara mandiri yang sifatnya semi insentif saya sudah coba lakukakan untuk mengantisipasi topik soal yang mungkin akan diujikan dengan menggunakan dua buku tersebut. Bagi karyawan memang mengatur jadwal belajarlah yang cukup susah menurut saya. Mengandalkan jam setelah pulang kerja dan waktu week end adalah yang bisa dilakukan. Godaan terberatnya adalah rasa lelah dan malas yang selalu saja timbul kapan saja. Dari total 3 buku Barron’s yang terdapat dalam paket tercatat hanya satu  buku yang baru saya selesaikan. Terdapat  paket soal latihan beserta kunci jawaban baik akademik maupun general  training. Dari sisi buku Cambridge saya hanya mencetak dua seri saja yang menurut saya cukup baru, yakni seri 8 dan 9. Sempat mencari-cari seri 10 tapi belum dapat. Paket soal yang terdapat dalam satu buku Cambridge ada 4 paket dengan tingkat kerumitan yang cukup wahhhh lah menurut saya. Dari kedua buku tersebut saya baru sempat menyelesaikan seri ke-8 mengingat jadwal tes yang sudah di depan mata waktu itu.

Setelah menyelesaikan soal-soal dari kedua buku berbeda tersebut saya bisa mengatakan bahwa IELTS Cambridge lebih representatif untuk menggambarkan kemampuan yang saya punya. Skor yang saya dapatkan dari tes sesungguhnyapun bahkan hanya setara dengan hasil sewaktu latihan. Komparasi yang saya lakukan memang hanya sebatas bagian Listening dan Reading. Soal-soal IELTS yang sebenarnya memang tingkat kesulitanya kurang lebih sama dengan yang ada dalam buku Cambridge. Cambridge memang adalah salah satu pihak yang membawahi IELTS di samping IDP dan British Council , oleh karena itu soal-soal yang diterbitkan dalam buku Cambridge-pun disetting setara dengan  tes aslinya atau soal yang pernah diujikan dimasukkan dalam buku tersebut. Buat teman-teman yang sekedar ingin mengetahui sejauh mana tingkat kemampuannya untuk menaklukan tes IELTS atau sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi tes saya sarankan untuk menggunkan buku terbitan Cambridge. Buku Barron’s  sebenarnya juga bisa menjadi alternatif untuk menambah kosa kata dan trik-trik menghajar IELTS. Topic yang dibahas dalam buku Barron’s juga variatif dan mudah dicerna. Demikian review saya mengenai kedua buku tersebut, tetap semangat, terus belajar, dan semoga bermanfaat.

 Jakarta, 02 Juli 2016

Berkah Dalem 🙂